Pages

Friday, January 27, 2012

To The Mountain

“Why do you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. And the people there see you differently, too. Coming back to where you started is not the same as never leaving.” ― Terry Pratchett, A Hat Full of Sky

Wise men say that thousand miles journey must begin with a single step. But everyone knows, that one first single step is usually the hardest one.

Hi, friends and fams. How's life there? Have you been well?

Saya belum menuliskan cerita terakhir saya tentang Raja Ampat. Tentang si kasur di atas perahu. Tentang mie ayam solo yang enak sekali dan si bapak penjual yang baik sekali.




Dan besok saya sudah akan pergi lagi. Kali ini sendiri. Besok saya akan mendaki Gunung Klabat, gunung tertinggi di Sulawesi Utara.

Rencana sebenarnya sudah dibuat awal bulan ini. Seorang teman kerja suami yang mengajak. Reaksi pertama waktu itu adalah loncat-loncat senang keliling rumah. Reaksi selanjutnya adalah seperti kurva menurun, yang hampir mendekati titik nol beberapa hari ini. Karena banyak hal.

Salah satunya adalah si krucil 5 taun yang sering sakit. Batuk dan asmanya datang dan pergi. Badannya kurus walau makannya banyak. Tapi dia selalu tidak bisa diam dan ribut, sampai-sampai setiap dokter yang memeriksa selalu tertawa sambil geleng-geleng kepala. Dan sekarang kami sedang menunggu hasil tes lab. Going away is the last thing in my mind. Tapi seorang sahabat, seperti juga Dewo, berkata, "Just go. He won't get better, nor get worse, if you're not home for one night."
Dan Dewo, "Pergi sana!". Sehari tanpa si monster beres-beres.

Saya officially diusir.

Alasan lain adalah karena saya merasa lelah. Hanya bertiga dengan krucil day in day out, cucian kotor di tengah musim penghujan, jadwal sekolah yang berbeda, mobil yang error seminggu sekali, bolak-balik ke dokter dan SIM mati yang belum diperpanjang membuat rumah yang hangat dan kasur yang empuk lebih menggoda dibanding siksaan bernama naik gunung. Saya bahkan sudah membayangkan saya yang sedang memikirkan kamar yang hangat ketika bertungkus lumus *haisshh* kehujanan melangkah kehabisan nafas di atas sana. Heh.

Dan saya takut. Ouw ya. Saya takut banyak hal. Saya takut tidak kuat berjalan. Dua tahun lalu saya naik Merapi dengan kondisi tubuh yang rutin berolahraga empat kali seminggu, salah satunya futsal. Hampir setahun ini olahraga saya cuma ngepel.
Saya takut naik gunung dengan orang asing. Lebih tepatnya saya gugup bertemu orang baru. I'm socially awkward. I'm the kind of people who stare at the floor when walking. Saya merasa mual dan panas dingin malam ini. Nyaris seperti malam sebelum sidang tugas akhir. Plus sakit kepala.

Saya takut dingin. Pendingin udara di rumah selalu disetel di suhu maksimum dan saya masih kedinginan. Rebutan remote AC jadi acara rutin saya dan si 5 taun. Dia mewarisi sisi keras, asma dan tahan udara dingin bapaknya. Saya mewariskan sisi melodramatic nerd, mata sayu (baca: sipit), dan tidak tahan dingin ke si sulung. Good thing is i've gained weight. Selain masa hamil, berat badan saya adalah yang terberat dalam 10 tahun. 48 kg. More fat, less cold. Masih ada waktu berapa jam buat menambah lemak! *ngunyah coklat

Dan terakhir, saya takut pipis di gunung.
Yea. Tell me about it. Such a dilemma. Kalau ngga pipis nanti ngompol. Kalau pipis di tempat terbuka nanti ada sesama pendaki yang lewat. Kalau pipis di tempat mblusuk-mblusuk, well that's scary. Soal perpipisan ini adalah dilema sejak saya pertama naik gunung jaman SMA dulu. Sekarang ketakutan saya ini sepertinya karma karena saya suka teriak-teriak protes "for god's sake, leave mommy alone!" ketika salah satu krucil nggebrak-nggebrak pintu kamar mandi minta dicariin mainan atau buku. There, we leave you alone. Now go and pee but remember not to disturb you-know-who and you-know-what in there.

Dan membaca spooky things tentang gunung klabat ketika mengugel rute pendakian sama sekali, SAMA SEKALI, tidak membantu. Tolong ya, lain kali kalo nemu yang serem-serem begitu jangan diblog-in... T_T

Sigh.
Ruang di dalam hati dan pikiran itu seperti sebuah ruangan di rumahmu. Sebuah lampu ada di situ. Ketika kamu nyalakan lampunya, semua terasa terang dan jelas. Ketika kamu matikan, suasana menjadi gelap. Suara asing menjadi lebih menakutkan. Padahal mungkin itu cuma kucing yang numpang lewat. Atau numpang toilet di halaman belakang. *yang pengalaman pagi-pagi ngubur pupup kucing sambil nutup hidung.

Saya termasuk orang yang terbiasa mematikan lampu. I Worry and think too much.

Sewaktu di Raja Ampat ada satu hal yang sangat membekas di ingatan.
Pernahkah kamu melihat di televisi atau membaca sebuah buku, dimana seorang anak berlari di atas jembatan atau dermaga lalu meloncat ke air? Saya terobsesi dengan itu. Dalam pikiran saya, hal itu dan duduk di atas dahan tinggi sebuah pohon adalah dua hal yang selalu ingin saya lakukan. Di Pulau Saonek, ada sebuah dermaga yang jaraknya hanya dua meteran dari air. Jika melongok ke bawah dermaga bisa terlihat school of fish dan beberapa bayangan gelap yang entah apa. Mungkin kayu yang tenggelam atau...gurita raksasa! In my mind, of course -_-'
Juga ada rombongan ubur-ubur yang sengatannya cukup maknyus, mungkin sepupu ubur-ubur yang menyengat saya beberapa hari sebelumnya di pulau sebelah. I was just sitting there, with so many butterflies in my stomach. Dewo dan krucil menyemangati. Tapi setiap kali berlari mengambil ancang-ancang saya akan berhenti persis sebelum dermaga habis.

I just couldn't make myself jump. I was afraid of high. I was afraid of some creatures under the sea. I was afraid of the uncertainty. I was afraid there's a shark down there and it was waiting for me.

So, did i jump or not?
I did. Screaming all the way. See my scary face.



Back to the years before that jump. Suatu malam di SMA. Kelas satu. Salah satu jadwal latihan pencinta alam malam itu adalah turun dengan tali dari salah satu kelas di lantai tiga sekolah. Kemudian secepat mungkin kembali ke ruangan tersebut. Going down was easy peasy. The scariest thing was going up again. Sendiri, saya harus melewati lorong-lorong sekolah yang gelap, lalu naik tangga ke lantai dua yang tepat berhadapan dengan salah satu ruangan kelas yang punya urban legend. Saya tipe orang yang melompat kaget kalau melihat bayangan sendiri. Kalau jantung saya bisa melompat keluar, mungkin malam itu dia sudah kabur meninggalkan saya dan mengayuh sepeda pulang ke rumah.

But my heart stayed.
But we did it. We survived.
We're still here. For now.

Malam ini saya masih galau gulana, tapi Insya Allah saya akan bisa menyalakan lampu di ruang hati dan pikiran. Melihat segala sesuatu dengan lebih cerah. Mengubah yang "tidak bisa" menjadi "bisa". Dan merasakan Dia selalu menemani dan menepuk bahu saya setiap saat. And I'll think of you and my loved ones all the way.

Besok saya akan pergi. Meninggalkan tiga orang tercinta saya untuk semalam. Dan saya akan pulang sabtu siang, dengan ijin-Nya. Semoga perjalanan beberapa jam besok membawa manfaat dan menjadikan saya manusia yang lebih berani. Lebih sabar. Lebih baik.

Untuk beberapa jam mereka bebas mengubah rumah menjadi kapal bajak laut pecah.

I don't believe in luck. But could you please wish me good things?
Patience and safety.
Warmth inside my body.
Strength on my old knees.
And the courage to pee.

Heheh.

Doakan saya pulang ke rumah.
And just in case, sorry and thank you for everything, dear people.
More good. Less harm.
Peace be upon you and your loved ones.
Good night.

"Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang-jurangmu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu..."
~ Soe Hok Gie, Mandalawangi - Pangrango


climbing buddies, when we were younger

0 comments:

Post a Comment