
Hari ini saya mengurus sebuah surat yang akan menjadi bukti bahwa saya diijinkan oleh negara untuk mengemudi.
Berlebihan kalau dikatakan surat, karena tidak ada "Dear, Pak Polisi yang sedang merazia..". Hanya sebuah kartu persegi dengan biodata dan seraut wajah yang tidak pernah fotogenik disitu. I envy those people who can look good even on their driving license. Jadi harusnya disebut KIM, kartu ijin mengemudi.
KIM pertama saya dulu waktu SMA. Diurus di sebuah kantor polisi di bantul dengan mengubah tahun kelahiran. Ikut tes teori tapi tidak pernah tau hasilnya. Dan menghasilkan sebuah kartu dengan muka empunya yang pipinya tembem dan matanya sipit. Sepeda federal yang setia menemani sejak SMP jadi jarang dikayuh ke sekolah setelah barang tidak halal itu menempati satu bilik di dompet saya. Itulah KIMH -Kartu Ijin Mengemudi Haram- pertama saya.
KIMH kedua adalah pada saat saya kuliah, untuk mobil kali ini. Dan seperti yang pertama saya tinggal datang, foto, dan bertambahlah satu KIMH di dompet. Mobil katana tua itu saya supiri dari Jogja ke Bandung sambil berharap puluhan lampu lalu lintas yang saya lewati akan terus menyala hijau sampai ke rumah kos.
It's a wonder i'm still alive. Or didn't kill anyone.
Yang ketiga dan terakhir adalah di Balikpapan lima tahun lalu. Saya pindah dari satu tempat ke tempat lain seperti cicak merayap dari satu kamar ke kamar lain *urgh, please god, let there be a world without those scary house geckos*, dan susah untuk memperpanjang surat-surat di kampung halaman.
Pssstt, to be honest, sekarang saya tercatat di bantul, tangerang balikpapan dan manado. Saya punya KTP balikpapan dan tangerang yang sudah mati, dan ktp manado yang tidak halal.
There. Guilty as charged.
I'm a mess. I'm an illegal alien.
Balik ke kartu-supaya-kalau-ada-razia-diijinkan-melanjutkan-perjalanan-tanpa-kena-tilang, semua KIMH saya mati bertepatan dengan ulang tahun ke 17, agustus kemarin. *kebiasaannyuriumur **lemparinsendaljugaboleh
Jadi akhirnya saya berhenti menyupir mobil dan naik motor jauh-jauh. Kebetulan pusat kota manado juga tidak kalah dengan jogja dan jakarte macetnya. Jadi ke kota hanya jika suami pulang dari lokasi kerja, tiap sabtu dan minggu. Di luar itu saya hanya menggunakan kendaraan bermotor ke dan dari sekolah krucil yang jaraknya tidak sampai 5 menit dari rumah.
Suami sudah punya SIM halal, yang dia dapatkan di tangerang setelah mengulang dua kali. Dia selalu bilang bahwa itu bukti kalau tidak menyuap pun bisa punya SIM. Dan sejak dulu dia ingin saya mencoba. Ok, fine. Hari ini saya coba.
Datang jam 8 pagi ke poltabes manado bersama krucil. Awal yang menyenangkan karena petugas ramah-ramah dan krucil dapet permen dari mereka. Dari loket langsung diarahkan ke tempat pemeriksaan kesehatan. Lancar dan membayar 30 ribu untuk ongkos pemeriksaan. Dari situ seorang bapak polisi memanggil ke dalam. Ternyata SIM balikpapan yang mati itu bisa dimutasi, tanpa perlu ujian lagi, asal membawa surat mutasi dari poltabes yang menerbitkan SIM asal. O well, saya tidak punya. Jadi si bapak itu ingin membantu.
Membantu. Kata yang baik sekali sebenarnya ya?
Anyway, saya bilang ingin mengikuti prosedur saja. Dan berkas saya langsung dialihkan ke orang lain. Yak, satu bantuan ditolak.
Selanjutnya menunggu panggilan foto. Mas di sebelah nanya bayar berapa. Ketika saya jawab 100 ribu untuk motor dia mengerutkan kening kaget, "eh, pake tes ya?". Sebagai seorang yang pesimis dan sensi saya mengartikan ekspresi mukanya dengan, "jaman gini masih pake tes? Apa kata dunia cobak!"
Hahah. I told you i'm such a melodramatic jerk.
Setelah difoto, dgn dimas mencoba ikut difoto sampai harus digendong keluar sama bapaknya, lalu ujian teori. Ketika memeriksa berkas lagi-lagi polisi lain bertanya bingung, "kenapa ikut tes bu?"
Saya: "lho kan saya mau bikin SIM, pak?"
Polisi: "errrr.. Gak dibantu aja?"
Memang polisi kita baik-baik.
Anyway, akhirnya tes teori. Lumayan keren karena menggunakan sistem komputerisasi dengan stick seperti di play station untuk menjawab. Tekan tombol merah di sebelah kiri untuk 'benar' dan tombol putih di kanan untuk 'salah'. Karena saya sendirian yang tes akhirnya damar dan dimas ikut duduk di sebelah dan ikut menjawab setiap soal.
Damar: "itu benar, mah! Iya kan pak polisi?"
Dimas: "salaaaahh! Salah maaahh!"
Bapak-bapak tua yang menonton: "salah jo.."
Saya lulus kedua tes teori untuk kendaraan roda dua dan empat. Nilai 77. Selanjutnya tes praktek. Bertemu dengan bapak polisi tua yang sedang merokok yang begitu melihat saya langsung tertawa. To make things short, yes he was offering another assistance. Katanya kalau gagal sekarang ngulang lagi 14 hari. Kalau gagal lagi, ngulang lagi 3 bulan. Saya cuma cengar-cengir.
Tes praktek motor adalah disaster waiting to happen. Tesnya adalah melewati tonggak-tonggak secara zigzag. Haissshh, masih stres kalau inget males nulisnya T_T *mutung
FAILED.
Dan jujur saya ngga tau cara lulus dari tes itu kecuali saya belajar dari evil knievel. Atau rika susianti. Dan mereka pasti ngga mau ngajarin saya.
Lagi-lagi saya tes sendiri. Dipandangi orang-orang lain.
I was feeling so lonely. Ihik.
Tes praktek mobil adalah keluar dari parkiran, berhenti di turunan, mundur 50 meter, memutari kompleks poltabes, parkir mundur, berhenti di tanjakan dan kembali ke parkiran.
Ada beberapa kesalahan yang saya lakukan:
1. Tidak menyalakan lampu sen ketika keluar parkiran
2. Kaki kiri masih sering di atas kopling
3. Tidak berhenti dan menetralkan kopling ketika keluar dari kompleks poltabes
4. Parkir tidak di dalam garis *oh i swear i didn't know there were lines there*
5. Hampir menabrak kerumunan orang yang duduk-duduk menonton karena mobil tidak kuat naik di tanjakan.
Hahah. Failed again.
Di depan semua orang yang tinggal duduk menunggu KIMH mereka jadi. Sebagian orang yang mungkin berpikir, "ngapain susye-susye tes, mending bayar. Beres.", sementara sebagian lagi bepikir, "ini orang pasti parah sekali, setelah nembak pun masih disuruh tes. Ckckck.."
Total ada tiga kali tawaran bantuan dari polisi-polisi yang di dinding kantornya ditempel tulisan "TEGUR KAMI JIKA MASIH MELAKUKAN PRAKTEK KORUPSI, KOLUSI DAN NEPOTISME".
Jadi. Begitulah.
Saya sedih bukan karena tidak dapat SIM, tapi sedih karena libur-libur kok malah cari SIM alias KIM. Sedih karena krucil terpaksa makan siang indomie rebus karena warung dekat poltabes tidak ada tulisan halalnya. Piggy dan doggy goreng bukan sesuatu yang ingin kami makan di hari melelahkan ini. Untuk menghibur diri akhirnya kami putuskan untuk menonton puss in boots di XXI manado town square.
Dan seperti kata puss, tidak ada kata terlambat untuk melakukan hal yang benar.
Hari ini karma saya kembali ke saya. Ketika dulu saya langsung datang foto, menyelak orang-orang lain yang mengantri. Ketika dulu saya pulang membawa kartu ajaib itu sementara yang tes tidak.
Ketika saya tidak tahu bahwa garis atau rambu tertentu punya arti tertentu tapi saya tetap DIIJINKAN mengemudi di jalan raya dalam kota, antar kota bahkan antar propinsi.
Surat Ijin Mengemudi.
Saya masih menaruh kartu ijin mengemudi haram lama di dompet saya. Tapi saya janji, saya tidak akan memutar di tempat dilarang memutar lagi. Tidak akan memotong marka jalan utuh lagi. Saya janji akan belajar cara menyetir yang lebih benar. Mengingat-ingat untuk tidak selalu meletakkan kaki kiri saya di kopling. Sengaja berhenti dan memberi jalan pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross. Tidak menyalakan lampu hazard ketika akan lurus di sebuah perempatan.
Terus belajar. *Good sources: http://pelayanmasyarakat.blogspot.com/
Dan terus mencoba, seperti bapaknya Nobita yang mengulang tes mengemudi puluhan kali.
Kalau saya tidak mendapatkan ijin mengemudi saya hari ini, it simply because i don't deserve it yet.
That's all.
Stay safe, mates.
Do more good, less harm.
Take care.
Ps: Ampun. Saya masih akan naik motor dan menyupir, terutama di dekat rumah. Minimal sampai punya sepeda. But do not worry, i wont bribe the cops if they ever catch me with expired driving licenses ^^
0 comments:
Post a Comment