Kabar itu datang kemarin sore. Lalu helikopter yang hancur ditemukan dini hari tadi. Hanya satu yang masih bernafas, sembilan lainnya telah tiada. Capung besi itu jatuh hanya beberapa menit setelah meninggalkan bandara sam ratulangi, di kaki gunung klabat.Satu jam dari bandara tujuan di Halmahera. Rute yang sama yang dilewati seorang terkasih kami setiap minggu.
Umur, seperti yang lain, milik Tuhan.
Membaca kabar itu saya nyaris tidak bisa sahur. Dua krucil masih tidur nyenyak dan saya tidak tega membangunkan mereka untuk menemani ibunya sahur. Saya tuang sereal si kriwil dan susu putih dingin dari kulkas. Saya habiskan dan baru sadar susunya basi setelah gelas kosong.
Saya keluar rumah ke halaman belakang.
Langit manado dini hari ini sangat berbintang. Aldebaran, yang telah beberapa bulan tidak saya lihat, bersinar di timur. Saya pandangi langit gelap mencari meteor-meteor jatuh awal bulan Agustus. Dengan mata terpaku ke bintang-bintang pikiran saya melayang. Sejak dulu saya selalu bertanya-tanya, apa yang ada di kepala seseorang yang akan tiada? Apa yang terlintas di ingatan mereka? Ketika pesawat akan jatuh, ketika mobil akan menabrak, ketika nyeri hebat di dada kiri, ketika terkena tikaman benda tajam?
Apa mereka selalu tau bahwa mereka akan pergi?
Apa yang almarhum bapak dulu pikirkan ketika saat beliau tiba dan saya tidak ada di sampingnya?
Apa sakitnya benar-benar seperti tusukan seribu pedang?
Dan mereka yang pergi hari ini, yang tidak saya kenal secara khusus, kepergian mereka membuat dada terasa sakit. Jenis kesedihan yang terasa sakit bahkan secara fisik. Mereka yang tadinya ada telah tiada.
Satu bintang jatuh melintas cepat. Dari konstelasi taurus ke arah kiri. Namun mata saya berkabut. Jika saya kedipkan mata, apakah sebuah lagi bintang jatuh akan lewat di depan mata yang hanya tertutup selama sepersekian detik? Jika saya kedipkan mata akankah yang ada akan menjadi tiada lagi?
Jika saya kedipkan mata apa saya juga sudah akan menghilang?
Azan subuh.
Di detik terakhir, apa yang dipikirkan seseorang yang selalu mempertanyakan tuhannya? Di luar hingar bingar dunia, adakah yang lebih sepi daripada jiwa yang tidak tau apa yang menunggunya ketika dia tiada? Yang tidak yakin apa yang menjadi tujuannya ketika dia ada?
For a fool like a certain someone, she can only say that "isn't faith believing?"
Believe. No matter what. No matter how hard.
Dua ekor burung terbang berdampingan dalam diam menuju timur. Setengah jam lagi matahari terbit di belahan bumi ini.
A new day.
Some of us are still breathing.
Some of us are not here.
Saya berhenti menatap langit dan masuk ke rumah.
Rest in love, strangers. Rest in love. May god be with you...
0 comments:
Post a Comment