Pages

Tuesday, August 16, 2011

31 random things. well, kinda.

Half time goes by
Suddenly you’re wise
Another blink of an eye
67 is gone
The sun is getting high
We're moving on...

1. Hari ini Manado hujan.
Saya biasanya suka hujan, tapi entah kenapa akhir-akhir ini hujan sedikit membuat saya takut. The last time it rain heavily, that chopper accident happened.

2. Rambut si kriwil makin kriwil.
Dan gondrong. Pengen saya kuncir tapi ngga dibolehin sama yang punya rambut. Hmm, apa ini tandanya sudah waktunya ngasih adek (cewek)?

3. Masnya si kriwil mulai banyak teman di sekolah.
Awalnya dia sangat pendiam. Selama dua minggu temannya cuma satu. Hobinya kalau jam istirahat muterin tiang bendera. Sekarang sehabis menaruh tas di kelas dia langsung kejar-kejaran sama dua teman dekatnya, Yasmin dan Freya. Yep. Girls.

4. Saya belum kehilangan kemampuan mendaki (memanjat?)
Berhubung saya cuma bertiga krucil senin pagi-sabtu siang, atap bocor adalah petaka. Badan tinggi sem(etertaks)ampai seperti saya dan tangga kayu reot peninggalan empunya rumah kontrakan tidak mendukung misi. But wth, i'll fix the roof or die trying. No, dear god. I'm just kidding. Sambil berakrobat dengan tangga (berbunyi krek krek tiap diinjak), tembok dan pagar besi, saya berdoa, "Ya Allah, saya tau umur di tanganMu. Tapi kalau boleh meminta, kalau boleh lho ya, jangan sekarang. Tolong nanti saja hari sabtu atau minggu sewaktu bapaknya anak-anak ada di rumah...."
I was that scared.
Perjalanan turun lebih menyeramkan. Saya sempet berniat menunggu ada tukang pos atau pemadam kebakaran yang lewat dan menyelamatkan saya. *emang kucing...
Yeah, but i'm still here. Memanjat rumah, done.

5. Saya kangen musola di sebelah rumah Balikpapan.
Juga suara kai' (kakek) depan rumah ketika mengimami shalat. Juga anak-anak tetangga yang suka cekakak-cekikik sambil senggol-senggolan pantat di samping saya.
Di bagian bumi indonesia ini, kesan awal saya adalah, "masjid, mana masjid.." You can find any church here, hampir setiap beberapa ratus meter atau bahkan berhadap-hadapan. Tapi tidak masjid. Dan jika menemukan masjid, biasanya ada di jalan-jalan kecil. Atau di bagian kota yang merupakan pusat komunitas muslim.
Saya tidak pernah menemukan ibu-ibu menyodorkan jaring di tengah jalan meminta sumbangan pembangunan masjid. Sebaliknya,di suatu jalan menuju pesisir pantai sulawesi utara, beberapa bapak-bapak mengacungkan seplastik pisang goreng yang dijual seribu rupiah untuk biaya pembangunan gereja. Kami membelinya. Dan di jalan pulang dari Tondano, suara "Terima kasih!Semoga selamat sampai di jalan, bapak dan ibu!", yang hangat juga terdengar dari pengeras suara di depan gereja yang sedang mengumpulkan sumbangan.
Suatu hari kami mengunjungi makam Tuanku Imam Bonjol di daerah Pineleng.Di depan kompleks makam ada musola kecil. Di sebelahnya sedang ada pesta, yang ditandai dengan organ tunggal dan asap dari sesuatu yang dibakar. Babi bakar? Hampir pasti. Tapi berdoa di musola itu, di tengah nyanyian lagu minahasa dan asap daging bakar, hati saya begitu damai. Seperti ketika di musola sebelah rumah dulu. Masuk lebih jauh ke kompleks makam, turun melewati undak-undakan yang dinaungi rerimbunan pohon bambu, kami sampai di aliran sebuah sungai. Yang terdengar hanya suara air, gesekan daun dan celotehan krucil. Di ujung bawah undak-undakan terdapat sebuah bangunan kecil setengah jadi yang sederhana. Di dalamnya ada sebuah batu besar. Tuanku Imam Bonjol yang diasingkan oleh Belanda hanya berdua dengan seorang pengawal sampai dipanggil Ilahi, dulu shalat di batu itu.
Sejarah perjuangan Tuanku Imam Bonjol sendiri penuh kontroversi. Rasa penyesalan Tuanku Imam Bonjol atas tindakan kaum Padri atas sesama orang Minang, Mandailing dan Batak, terefleksi dalam ucapannya "Adopun hukum Kitabullah banyak lah malampau dek ulah kito juo. Baa dek kalian?"
Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh kita. Bagaimana pikiran kalian?
Sejarah selalu mengulang, bukan?

6. Saya 'tidak suka' ide tentang masjid berkubah emas atau berlantai marmer sementara di sekitarnya masih ada pemukiman kumuh.
Tapi siapa saya. Just a sinner. A horrible one. Dan kemudian ada http://pinkmosques.com/ dan http://30mosques.com/ yang melihat masjid dari banyak dimensi, mengobati pikiran-pikiran aneh dan gelap saya. Pinkmosque ditulis tiga orang muslimah selama bulan Ramadan ini. Salah satunya adalah Emi, sahabat saya yang sayangnya akhir-akhir ini jarang bisa saya baca tulisannya. 30mosque oleh dua orang Amerika, Aman dan Bassam.
Beautiful pieces by beautiful faithful minds.

7. Hujan meteor Perseid tahun ini sangat indah.
Tanggal 13 Agustus kemaren puncak hujan meteor Perseid. Setelah sahur saya berbaring di trampolinnya krucil di halaman belakang. Jaring-jaring segienamnya membingkai langit dengan jupiter tepat di tengah-tengah. Saya tidak ingat kapan terakhir kali berbaring menengadah ke langit. Jadi saya bertahan sampai matahari terbit walau pantat dan punggung basah terkena embun yang ditangkap alas trampolin. Walau dinginnya membuat menggigil. Walau suara lolongan anjing tetangga lumayan menakutkan. Walau bayangan pohon membuat saya sewaktu-waktu melompat. Walau ingatan tentang sadako dan yang seram-seram mulai mengintip di sudut otak. Walau hanya tujuh meteor dalam 1 jam. Tujuh meteor yang membelah langit dalam diam di antara taburan konstelasi-konstelasi bintang. Perseus, Cassiopeia, Gemini, Andromeda, Taurus, Orion, Auriga...
See you next year, Perseids. God willing.

errr, fast forward to number...

30. Birth day. Hari lahir.
31 tahun dan ibuk saya tercinta masih selalu inget untuk bilang, "haishh, nin, coba dulu kamu sabar sedikit, dapet bingkisan 17an kita dari rumah sakit..." yea right, mom. Hari lahir. Hari pengingat betapa beruntungnya saya memiliki ibu, dan bapak, dan kakak adek yang pernah dan sedang saya miliki.
Tahun lalu, ketika masuk ke kepala tiga, saya tersenyum lega. Ternyata rasanya sama seperti ketika berumur 12 tahun. Kecuali stretch marks dan dua bocah, saya masih melihat banyak hal dari sudut pandang yang sama. Langit beserta isinya masih sama. Rumput beserta bau tanah sehabis hujannya masih sama. Matahari terbit dan tenggelam di arah dan dengan warna-warni yang sama. Sandal jepit dan baju kaos masih jadi mode terkeren. Pohon rindang masih menarik untuk dipanjat. Ayunan di TK kriwil masih menarik untuk dimainkan. Cicak masih menakutkan untuk dipandang, boro-boro diinjek.

Pertanyaan-pertanyaan saya tentang hidup, tuhan dan manusia masih sebanyak pertanyaan-pertanyaan kriwl dan masnya.
Dimas: "Allah bisa ditelpon ngga, mah?"
Damar: "Buat apa sih shalat?"
Mamah: "Are you still there, God?"

Demi waktu. Apakah saya termasuk mereka yang merugi? You can answer 'yes' if you want. It's okay.

31. 31 tahun.
Sebagai seorang pesimis yang lumayan optimis, yang terlintas di kepala saya di usia saya yang 31 tahun ini adalah,"31 years to go before 62. or not."

Terima kasih untuk semua doa. Maafkan untuk semua dosa. Have a blessed life,too. And peace be upon you. Good night, good people....

0 comments:

Post a Comment