I cried, just minutes ago.
From watching an episode of Bones.
Oh okay, saya sering menangis. Ketika menonton atau membaca sesuatu. Saya bahkan mbrambangi ketike menonton iklan susu kental manis tentang seorang bapak yang bekerja keras supaya anaknya bisa minum susu. Cheesy me...
Anw, Bones adalah sebuah drama kriminal tentang seorang antropolog forensik Temperance "Bones" Brennan. Dia bekerja sama dengan agen FBI Seeley Booth dalam memecahkan masalah-masalah yang berhubungan dengan penemuan sisa-sisa tubuh manusia. Mei tahun ini Bones telah menyelesaikan musim keenamnya.
Saya ingat, suatu hari di dua tahun yang lalu di Balikpapan saya pernah berpikir. Jika saya tidak memutuskan menjadi seorang ibu rumah tangga, saya akan memilih menjadi Temperance Brennan. Hahah.
Di episode "The Doctor in The Photo", Bones, si jenius tapi kaku dalam kehidupan sosial, menemukan sebuah kasus dengan korban yang mirip dengannya. Dan mulailah sebuah episode yang ditulis dengan berbeda dan indah.
My fave is Micah. Si penjaga malam Smithsonian Institute, tempat Bones bekerja. Dan kalimat-kalimat yang ia dengar dari kuliah-kuliah gratis di Smithsonian.
Yang membuat saya melupakan dulu wortel, ikan tuna dan jemuran pagi ini.
MICAH: "I attended this lecture where this philosopher guy says that for something to be objective, it must be separate from the mind, and nothing is separate from the mind - ergo, ipso facto, Colombo, Oreo."
Ergo means "therefore", "maka dari itu". Ipso Facto, "by that very fact", "by the fact itself" Colombo...errr, ibu kota negara? Oreo, well, yang diputar, dijilat, dicelupin itu. Perhaps.
Kalimat di atas dikatakan Micah kepada Bones ketika Bones bercerita bahwa ia kesulitan bersikap obyektif untuk kasus itu. Menurut seseorang atheis (atau agnostik?) karena menganggap semua hal bisa dijelaskan secara ilmiah seperti Bones, jika tidak ada obyektifitas maka empirisme adalah hal yang mustahil. Ergo, tidak ada kebenaran absolut. Sesuatu yang menurut Bones tidak masuk akal.
Dan ketika Bones sudah kehabisan hal dan bukti untuk diteliti, Micah berkata bahwa itulah problema seorang empiris,
"Eventually, you run out of things to measure and smell and count."
Jadi, sebenarnya apa yang bisa diukur dan dihitung? Di tengah-tegah semua rutinitas harian, bangun tidur, beribadah, mandi, makan, memeluk orang yang kita cintai, bekerja, berkomunikasi, bertengkar, bernyanyi, tidur lagi, apa yang sebenarnya kita rasakan? When nothing's absolute and everything's a state of mind, mana yang benar, mana yang salah? Mana yang normal? Mana yang baik?
Ketika sedih, apakah memang seharusnya kita sedih? Sebaliknya jika kita senang,
apakah kita senang untuk alasan yang tepat?
Ketika takut, ketika jatuh cinta, ketika patah hati, ketika kesepian, ketika tertawa, ketika menangis, ketika marah, ketika sakit, ketika lelah, ketika ingat, ketika lupa...
Perhaps, life, and our brain, can be deceiving.
MICAH: "Well, maybe that's why your brain is resorting to talking to you directly. I went to this lecture where this neurosurgeon said that we understand the dark side of the moon better than our own brains."
Once upon a time, people actually believe that the earth is flat. And that we're the center of the universe.
Why do you believe what you believe?
Saya pernah membaca "Plato and Platypus Walk into a Bar". Di situ diceritakan bahwa dulu sekali, para filsuf telah sepakat bahwa tidak ada gunanya bagi kaum beriman dan ateis untuk saling berdebat. Ini karena mereka menafsirkan SEGALA SESUATU secara berbeda. Dan untuk dapat berdebat, harus ada dasar yang sama.
Matematikus dan filsuf Prancis, Blaise Pascal, berpendapat bahwa memutuskan apakah percaya pada tujan atau tidak pada hakikatnya adalah pertaruhan. A very big one, if you may say. Jika kita memilih Tuhan itu ada dan pada akhirnya, entah kapan dan bagaimana caranya, kita menemukan ternyata tidak ada, itu bukan masalah besar. Yah, mungkin kita kehilangan kemampuan menikmati seven deadliest sins, tapi itu bukan seberapa dibanding jika kita bertaruh tuhan itu tidak ada, dan mencapai akhir dengan menghadapi kenyataan bahwa tuhan itu ada. Maka kita kehilangan Kebahagiaan Abadi.
Itu dikenal dengan Pertaruhan Pascal. Siapa yang berani bertaruh ke apa?
Balik ke Bones. By the end of the show, Bones menyadari satu hal. She made mistakes. Sometimes the big ones. And sometimes, people actually missed their chances.
MICAH: "I heard one of these lectures about an experiment where they give guys a pair of glasses that make them see the whole world upside down. But after three days, guess what? They see everything right side up. And then they take off their glasses, and they see everything upside down again. For three days. And then, eureka! Back to normal."
It takes the brain three days to adapt. Three days for the world to turn right side up again.
Jadi, dear mateys, ketika dunia terasa jungkir-balik, hanya ada satu yang bisa dilakukan. Adjust. Live and learn. And always listen.
That there's no such thing as objectivity. That we're all just interpreting signals from the universe and trying to make sense of them. Dim, shaky, weak, staticky, little signals that only hint at the complexity of a universe that we cannot begin to comprehend.
~ Micah Leggat
Di akhir tulisan (purely to empty-my-head-fill-my-heart, just like Coelho wrote, please forgive my selfishness, saya menyimpulkan satu hal. Saya semakin tau kalau saya itu tidak tau. I know nothing. I am nothing. I'd love to see The Everything tho'. I'd love to believe. I don't want to miss my chance. Sekecil apapun saya, saya tidak ingin segala hal kecil yang saya sentuh tidak menghasilkan makna, sekecil apapun.
After all, faith is believing? Isn't it? *melirikkeatassambilmenyentuhuratnadidileher
Where am I? Who am I?~ Soren Kierkegaard
How did I come to be here?
What is this thing called the world?
How did I come into the world?
Why was I not consulted?
And If I am compelled to take part in it,
Where is the director?
I want to see him
Jika kamu sempat berhenti sebentar dan mencoba mendengarkan, apa yang dikatakan alam semesta padamu saat ini?
Saat ini, alam semesta menyuruh saya untuk mandi.
Bye, folks.
Don't forget to smile.
0 comments:
Post a Comment