Pages

Saturday, July 30, 2011

ramadan ke sembilan

ketika seseorang yang kamu sayangi telah lama tiada,
kadang kamu bertanya-tanya
seperti apa suaranya dulu.
bagaimana tawanya saat itu.

apa memang sejarang itu dia tertawa.

kamu mencoba mengingat semuanya,
untuk menemukan bahwa sebagian jejak mulai terhapus.
oleh waktu yang terbentang.
oleh umur yang semakin menghilang.

semua, pada saatnya, akan hilang.

ketika sesuatu telah menjadi milik masa yang telah memudar
kamu mencari-cari gambar atau huruf yang bisa mewakili
kehangatan yang kini hanya ada di hati.
tersembunyi di balik terbangnya hari-hari.

kamu hanya menghitung kenangan.

"kalau rajin latihan tenis,bisa sekolah di ragunan jakarta lho..."
"sekolah di jogja. mau?"
"kalau cuma ikut-ikutan jangan dilakukan. jangan dipakai. manusia bukan cuma dilihat dari pakaiannya!"
"bangun. pengumumannya sudah ada. keterima."
"masih cukup sampai bulan depan?"
"naik gunung? sama siapa?"
"kapan ujian?"
"sudah dibilangin jangan manjat pohon!"
"kapan pulang?"

dan kamu tersadar, hanya sedikit yang kembali ke ingatan.
atau memang tak cukup banyak yang telah kamu katakan.
tak cukup sering kamu mendengarkan.
melakukan hal yang tidak seharusnya, atau sebaliknya,
tidak melakukan hal yang seharusnya.
ketika masih ada kesempatan untuk dilakukan.

besok ramadan.
ramadan ke sembilan tanpa dirinya.
apakah masih sampai ke magrib pertama ramadan besok...tidak tau.
kapan akan bertemu lagi dengannya...juga tidak tau.

hanya menghitung kenangan, dan mendoakan.
dan memohon ampun.

My Lord! Forgive me and my parents. Bestow Your mercy on them as they took care of me when I was young.

ramadan kareem.
semoga kita menjadi manusia yang lebih baik.

*dearest old man, dimas menemukan foto ketika kita makan di suis butcher malam setelah saya lulus. dimas nanya, "ini kai mamid?". wajahnya ketika tersenyum menanyakan itu, seperti wajahmu...*

0 comments:

Post a Comment