Kami berdua bangun pagi-pagi sekali, seperti biasanya. He's an early bird, like me. Adiknya, si Kriwil, mirip bapaknya, tidak akan bangun kalau belum laper.
He looked okay. Saya pikir dia bakal gugup. Saya selalu gugup di hari pertama sekolah dulu. Tapi dia terlihat baik-baik saja. Setelah sarapan, mandi dan memakai seragam barunya, dia masih sempat main sepeda di depan rumah.
Sangat melegakan, karena si adek menangis dan menolak sekolah.
Kriwil: "huhuhuhu...dimas ndak mau sekolah."
Mamah : "kenapa, sayang?"
Kriwil: "dimas capeeekkk!!"
Mamah : "kan dimas baru bangun..."
Kriwil: "dimas ngantuuukkk!!"
Mamah : "habis mandi ntar seger dek."
Kriwil: "dimas ndak mau mandiiii!!"
Mamah : *menarik nafas panjang
Oh well, pokoknya dramanya panjang sekali. Keberhasilan hari pertama ini hanyalah dia masuk ke kelas selama 5 detik.
It's okay, kiddo. Besok kita coba lagi.
Sementara kakaknya, sampai di sekolah dan menunggu apel pagi dengan wajah dingin *i wonder did i look like that, back in those school days, since my old mate once told me that i had scary face* dan tanpa bicara, hanya sekali-kali melirik ke saya yang berdiri menjauh di belakang kerumunan orang-orang tua murid lain.

Sekolah itu adalah sekolah negeri sekitar 2 km dari rumah. Berjarak 500 meter-an dari TK si adek, jadi saya bisa lebih leluasa mengantar jemput mereka naik sepeda motor. Berbentuk huruf L dengan lapangan tanah dan sebuah pohon besar di seberang tiang bendera. Sebuah lonceng logam digantung di dekat ruang guru.

Dan upacara bendera pun dimulai.
Awalnya, orang-orang tua murid bahkan mencoba me-reserve tempat duduk di kelas dgn menaruh tas atau barang di atas kursi, yang digagalkan dengan telak oleh guru-guru. "Bapak ibuuukkk, tolong jangan mengatur tempat duduk anak-anak, percayakan kepada kami. Nanti kalau sudah masuk kelas, jangan ikut masuk yaaa!!"
Saya masih berdiri di pojok yang jauh sambil mencuri foto lelaki kecil pemberani yang berwajah serius.
My baby.
Upacara bendera ditutup dengan doa menurut agama masing-masing, yang diwakili dengan doa kristiani. Berbeda dengan sekolah negeri di Jawa atau Kalimantan yang mayoritas muslim, di sini kami menjadi minoritas, jadi apa yang diberlakukan oleh muslim di Jawa, juga diberlakukan oleh kaum kristiani di sini. Doa dibaca mengikuti mayoritas murid.
But it was a good prayer.
Mata saya berkaca-kaca ketika ikut berdoa ke tuhan saya agar murid, guru dan saya sebagai orangtua diberi kekuatan untuk melakukan yang terbaik. *Saya tau saya belum melakukan yang terbaik. Ya Tuhan, semoga saya bisa menjadi lebih baik...bagaimana caranya menjadi lebih baik?*
Bahwa kami semua ada di tangan-Nya. Bahwa smeoga anak-anak dibimbing menjadi anak yang baik, pintar dan berguna. "Baik" di prioritas pertama, karena karakter jauh lebih penting dari nilai rapor. Jadilah apa pun, nak, selama kamu menjadi manusia yang baik...
Ketika saya mengucapkan amin dalam hati, saya mengingatkan diri saya untuk menerangkan padanya bahwa nama tuhannya berbeda dengan nama tuhan di doa-doa yang mungkin akan dia dengar tiap hari. Dan untuk menerima perbedaan. Dan menghargai persamaan. Dan jika dia mengerutkan kening, saya akan berkata bahwa mamahnya pun masih selalu mencari. It's a life time searching.
Masih selalu belajar. A life time learning.
A life time yearning.
Pulang sekolah, saya melihatnya berjalan sendiri menyeberang lapangan yang berdebu, terkena gesekan langkah-langkah kecilnya. Wajahnya masih datar, namun senyumnya mengembang tipis ketika saya memeluknya. Untuk saat ini dia belum menolak dipeluk. Entah sampai kapan.
"Gimana sekolahnya, nak? Udah dapat temen?"
"Udah. Satu."
"Bu guru gimana?"
"Galak."
"Yang bener? Galak mana sama adek Kriwil?"
(Menunjuk si adek yang matanya bengkak kebanyakan nangis)
"Galakan mana sama mamah?"
"Galakan bu guru."
Hmmm. Saya menganggap itu pujian.
Thank you, dear Allah, for today. Temani kami lagi esok hari.
Semoga hati dan langkah-langkah kami selalu di jalan-Mu.
And for you, a child with a gentle smile and an old soul, be strong. Be brave.
Be kind. Seperti dirimu selama ini. No matter what life brings you.

I'm here,
as long as i can.
0 comments:
Post a Comment